Senopati Kepra’s Pendopo

Pemimpin Indonesia

June 3, 2009 · No Comments

Semakin mendekati pilpres, suasana kampanye semakin marak dan ramai. Setiap orang sepertinya sudah punya kecenderungan sendiri-sendiri. Kalau saya sebenarnya nggak ada yang benar-benar special. Secara pribadi, saya sebenarnya pengennya Sri Sultan juga mencalonkan diri. Yang saya kagum justru Sri Sultan ini sangat legowo dengan kursi kekuasaannya. Kedepannya, sepertinya status DIY tidak akan istimewa lagi, karena kemungkinan besar gubernurnya akan melalui pemilihan. Kalau mau sebenarnya Sri Sultan bisa meminta dukungan rakyat DIY yang kebanyakan mendukung beliau. Tetapi dengan keikhlasannya, dengan legowonya, dengan komitmen kebangsaannya, Sri Sultan tidak melakukan itu. Tidak semua raja-raja Mataram berjiwa besar, menurut saya Sri Sultan termasuk salah satu raja Mataram yang berjiwa besar, yang kepemimpinannya bisa diteladani, seperti halnya ayahandanya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Meskipun demikian, saya juga punya kriteria-kriteria tersendiri untuk memilih capres pada pilpres nanti. Beberapa yang bisa disebut adalah yang pro-rakyat, bijak, jujur, adil, dan mengayomi. Sudah ada kecenderungan ke sana yang mungkin memiliki kriteria-kriteria tsb. Yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berharap Allah SWT memberikan yang terbaik bagi segenap bangsa Indonesia, meminta petunjuk kepada Allah SWT untuk pemilihan nanti mana yang terbaik. Yang jelas, kita tidak seharusnya memandang pilpres ini secara hitam-putih. Silahkan meminta petunjuk Allah, berpikir jernih, dan memilih sesuai hati nurani Anda.

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Kimiga Irudakeke

March 25, 2009 · 1 Comment

Ini adalah judul lagu pop jepang yang jadi OST dorama Jepang “Sugao No Mamade/Just The Way We Are”. Dorama inilah yang pertama kali saya lihat dan akhirnya saya jadi suka dengan beberapa dorama Jepang yang lain. Dulu lagu ini selalu keluar di pembukaan dorama yang disiarkan di Indosiar tahun 1995. Waktu itu saya masih kelas 1 SMP, dan setiap habis sholat maghrib selalu nonton dorama ini bareng ibu dan adek. Kalau tidak salah, lagunya juga di dubbing jadi bahasa Indonesia. Yang saya ingat pada bagian reff nya saja, kalau tidak salah seperti ini : 

“Pabila kau

berada disini

perasaan ini

semakin terasa tentram”

Yang membuat saya suka dan teringat lagu ini tentu saja karena selain doramanya yang berkesan, juga karena musiknya yang enak di dengar, melodius, tetapi tetap bersemangat.

Berikut ini versi pembukaan dorama-nya :

Kimiga irudakeke

Kalau yang ini versi live yang agak baru :

Kimiga irudakeke live

Jika lihat yang versi ini, ada tariannya yang gerakannya mirip-mirip senam SKJ cocok dengan lagunya.

→ 1 CommentCategories: Uncategorized

Pemanasan Global

March 23, 2009 · 2 Comments

Tadi malam, saya melihat sebuah acara di Metro TV yang bertema tentang pemanasan global. Beberapa peneliti, antara lain dari Unversitas Brawijaya melakukan pengukuran cadangan karbon yang tersimpan di sebuah cagar alam di Gorontalo. Cadangan karbon yang dimaksud adalah kandungan karbon yang terdapat di hutan, antara lain kandungan karbon di pohon, kayu mati, guguran ranting atau daun-daun, kayu mati, akar-akaran dll. Semakin besar tumbuhan/pohon maka cadangan karbon yang dikandungnya juga semakin besar. Tumbuhan yang mati atau daun dan ranting yang gugur tetap menyimpan cadangan karbon. Cadangan karbon tersebut baru terlepas ke udara jika ada proses pembakaran.

 

Kandungan karbon di udara mengakibatkan peningkatan temperatur atmosfer. Akibat globalnya adalah pencairan es di kutub sehingga permukaan air laut naik dan daratan terendam. Akibat lainnya kondisi iklim dan cuaca menjadi tidak beraturan karena peningkatan suhu atmosfer. Kondisi iklim dan cuaca yang buruk ini bisa mengakibatkan bencana gelombang pasang, kecepatan angin tinggi, yang tentu saja membahayakan transportasi laut maupun udara.

 

Jumlah tutupan hutan dan tanaman yang semakin kecil adalah sebab utama pemanasan global. Secara lokal, kekurangan tutupan tanaman ini berakibat pada berkurangnya cadangan air tanah, erosi tanah, pendangkalan sungai, bencana longsor dll. Jadi sebenarnya hutan ini diciptakan Allah Yang Maha Bijaksana sebagai sebuah sistem penstabil dan sistem penyokong keseimbangan alam. Jika manusia bisa secara adil dalam memanfaatkannya pasti tidak akan terjadi pemanasan global. Karena dengan rusaknya hutan maka efek yang ditimbulkannya sangat signifikan. Sudah saatnya kita melakukan kegiatan rehabilitasi hutan dan alam. Sebisa mungkin kita mengurangi pelepasan karbon dengan cara tidak membakar lahan, tidak membakar sampah. Mengenai masalah penggunaan energi fosil mau tidak mau kita sulit menghindarinya, tetapi paling tidak kita bisa menguranginya.

 

Kemudian, kita harus menambah jumlah penyimpan karbon, yaitu tanaman. Konsep hutan kota layak dipertimbangkan kembali dalam proses perencanaan kota. Di halaman rumah kita bisa menanam pohon, di kantor kita juga bisa menanam pohon, di sekolah-sekolah kita juga bisa menanam pohon, dan di lahan-lahan kosong lainnya seharusnya juga dimanfaatkan dengan menanam pohon. Semakin banyak pohon, maka karbon bebas di udara akan semakin banyak yang diserap oleh pohon melalui proses fotosintesis. Hasil fotosintesis ini disimpan dalam batang, ranting, daun, buah, akar, dan bunga sebagai cadangan karbon.

 

Di beberapa daerah di Jawa Tengah dan DIY sudah mulai berkembang konsep hutan  rakyat yang menggunakan sistem silvikultur. Lahan-lahan milik rakyat/petani yang dulunya hanya digunakan untuk tanaman semusim seperti ketela, kacang-kacangan, jagung, kini mulai ditanam selang-seling dengan pohon kayu keras semacam mahoni, sengon atau sonokeling. Untuk daerah Jawa, sistem ini sangat cocok, mengingat jumlah lahan yang terbatas dibandingkan dengan jumlah penduduk. Hutan alam di Jawa sendiri sudah semakin sedikit. Dengan kearifan lokal seperti ini diharapkan dapat mengurangi dampak pemanasan global.

 

Dengan menanam pohon kita akan mendapat berkah. Berkah udara segar, berkah keteduhan, berkah air tanah, dan tentu saja berkah manfaat terhadap lingkungan dan segala isinya. Dan berkah yang paling besar adalah pahala yang berlipat-lipat dari Gusti Allah Subhana Wa Ta’ala. Apakah Anda tertarik?

→ 2 CommentsCategories: Uncategorized

Adopsi pohon di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

March 15, 2009 · No Comments

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat mengadakan program adopsi pohon dengan mengajak instansi maupun perorangan untuk ikut serta secara sukarela menanam pohon di areal perluasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Areal Perluasan ini merupakan bekas hutan tanaman produksi yang tanahnya sudah tidak produktif lagi dan bekas areal hutan yang digunakan warga untuk ladang. Untuk mendayagunakan warga sekitar hutan, pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango bekerja sama dengan warga sekitar untuk pemeliharaan hutan dan warga sekitar hutan diperkenankan untuk menanam tanaman yang menghasilkan buah di lahan perluasan taman nasional.

Bagi perorangan yang ingin mengikuti program adopsi pohon secara sukarela minimal adalah satu pohon dengan biaya pemeliharaan sebesar Rp. 3000,- per pohon per bulan. Minimal waktu adopsi pohon adalah 3 tahun. Jadi jika ada perorangan yang ingin mengadopsi satu pohon untuk 3 tahun maka untuk biaya pemeliharaan total adalah Rp. 108.000,-. Cukup murah untuk jangka waktu 3 tahun. Selanjutnya pohon yang diadopsi ini akan diberi nama sesuai nama adopter-nya & diberi sertifikat.

Untuk instansi, minimal adopsi adalah lahan seluas 5 hektar.

Diharapkan area perluasan ini dalam beberapa tahun mendatang menjadi kawasan hutan yang hijau dan bisa berfungsi sebagai daerah konservasi air, binatang, dan tanaman. Diharapkan pula dengan perluasan ini dampak banjir di Jakarta atau di daerah Jabar lainnya dapat berkurang.

Untuk informasi lebih lengkap dapat mengunjungi situs resmi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berikut ini.

http://gedepangrango.org

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Pohon kepuh

March 7, 2009 · No Comments

pohon kepuh

pohon kepuh

Pohon kepuh di jawa sering disebut pohon genderuwo karena kesan besar dan angkernya & biasanya banyak ditanam di kuburan ternyata banyak manfaatnya terutama dari bijinya. Kabarnya pohon kepuh ini bisa dugunakan sebagai sumber energi nabati pengganti bahan bakar fosil. Bahkan kandungan minyaknya lebih besar dari pohon jarak. Menurut penelitian, sebuah pohon kepuh sekali berbuah bisa menghasilkan bahan bakar nabati setara 125 liter. Padahal pohon kepuh sendiri berbuah tiap tahun. Kabarnya pula pohon kepuh ini termasuk tanaman yang langka. Eman-eman cah yen punah

Monggo, menanam pohon dan peduli kelestarian hayati.

Berikut ini link artikel tentang manfaat pohon kepuh :

http://kmtphp.tp.ugm.ac.id/index.php/component/option,com_events/Itemid,35/day,13/month,08/task,view_year/index.php?option=com_content&view=article&id=41:buah-pohon-gendruwo-kaya-energi&catid=33:u-must-know&Itemid=83

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Menanam Pohon Mahoni

March 5, 2009 · No Comments

buah & biji mahoni

buah & biji mahoni

Terinspirasi oleh buku “Ekspedisi bengawan Solo” dan keprihatinan terhadap banjir yang sering melanda beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Jawa, maka saya punya kesenangan baru menanam pohon.  Meskipun hanya satu pohon dan manfaatnya tidak seberapa untuk

swietenia mahogany dewasa

swietenia mahogany dewasa

lingkungan, paling tidak hal tsb menciptakan suasana lain yang sangat menyenangkan. Saya memilih membeli bibit pohon Mahoni, entah karena alasan apa, hanya terlintas saja. Mungkin karena saya dulu sering baca novel silat Api di Bukit Menoreh milik Bapak yang ada tokohnya yang bernama Ki Maoni. Atau mungkin karena terinspirasi dari buku “Ekspedisi bengawan Solo” yang menggunakan Pohon Mahoni untuk penghijauan di hulu DAS Bengawan Solo. Padahal saya belum tahu bagaimana bentuknya pohon mahoni itu, atau mungkin sudah pernah melihat tetapi tidak sadar bahwa itu pohon mahoni. Akhirnya

swietenia macrophylla muda

swietenia macrophylla muda

bisa dapat juga bibitnya di toko tanaman, meskipun harus indent terlebih dahulu. Sempat bingung juga apakah yang saya beli itu benar-benar pohon mahoni, jangan-jangan bukan. Akhirnya saya petik beberapa lembar daun kemudian googling di internet untuk mencari tahu info tentang pohon mahoni dan mencocokannya. Sepertinya bibit yang saya beli memang benar pohon mahoni. 

Pohon Mahoni adalah pohon tropis-subtropis berkayu keras, bertajuk lebat, dengan daun yang hampir selalu hujau. Nilai ekonomisnya cukup tinggi dan di Jawa dikenal sebagai kayu berkualitas nomor dua setelah kayu jati untuk keperluan perabot atau kayu bangunan. Selain kayu, biji mahoni juga berkhasiat obat, antara lain untuk obat diabetes melitus, anti kanker, masuk angin, dan demam. Di Jawa, sering digunakan untuk pohon peneduh jalan, karena tajuknya yang rimbun dan bisa mencapai tinggi hingga 30 m. Menurut info di internet, pohon mahoni bisa menyerap karbon polusi hingga 40% sd 60%. Di kota tempat saya berdomisili saat ini, sepertinya penggunaan pohon mahoni sebagai peneduh jalan merupakan kebijakan baru dari pemda setempat, karena yang saya lihat di jalan-jalan rata-rata masih berusia muda. Pemda tentu berpikir, daripada menanam pohon yang nilai ekonomisnya kurang lebih baik menanam mahoni yang selain memenuhi syarat sebagai pohon peneduh juga nilai ekonomisnya cukup tinggi.

Pohon Mahoni yang dikenal di Indonesia ada 2 jenis yaitu mahoni daun besar (Swietenia Macrophylla) dan mahoni daun kecil (Swietenia Mahogany). Mahoni daun besar lebih cepat tumbuh, batang kayunya lebih bulat dan lurus, tetapi kekurangannya adalah kualitas kayunya kurang dibanding mahoni daun kecil serta adaptasi dengan lingkungan kering lebih jelek. Untuk mahoni daun kecil kelebihannya kayunya lebih baik, tahan dengan daerah kering. Kekurangannya, pertumbuhannya lebih lambat dan batangnya kurang bulat dan kurang lurus. Bibit yang saya beli ini saya masih bingung termasuk jenis yang mana, apakah daun besar atau daun kecil.

Sudah saatnya untuk lebih menyukai menanam pohon, karena akhir-akhir ini udara sudah menjadi sangat panas, hutan sudah banyak berubah menjadi lahan dan perumahan. Kebanyakan sudah berlapis semen dan aspal. Walaupun kalau orang jawa bilang “Jamane wis akhir” atau “jaman sudah mendekati akhir”, tetapi tidak salah upaya untuk mengurangi dampak pemanasan kita usahakan. Paling tidak saya bisa memanfaatkan kegiatan menanam dan merawat pohon di halaman sebagai sarana rekreasi murah, penyegaran pikiran setelah beraktifitas, dan sarana berpikir&merenung tentang kebesaran Allah SWT. Setiap sore pulang kerja selalu menyirami & mengamati pohon mahoni tsb bersama istri, sampai ke tunas-tunas yang baru mulai tumbuh yang berwarna kemerah-merahan.

Salam

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Bengawan Solo

January 25, 2009 · 1 Comment

Bengawan solo

Riwayatmu kini

Matairmu dari solo, terkurung gunung seribu

air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut

Di atas adalah sepenggal lirik lagu Bengawan Solo karya Mbah Gesang yang terkenal sampai ke luar negeri. Beberapa hari yang lalu saya jalan-jalan ke Gramedia sambil melepas kepenatan memikirkan pekerjaan. Setelah hampir satu jam mencari-cari buku, akhirnya saya menemukan buku yang menarik. Judul buku tersebut adalah “Ekspedisi Bengawan Solo” terbitan Kompas. Ekspedisi ini dilakukan oleh tim Kompas pada tahun 2007. Pesertanya adalah ahli geologi, sungai, dan tanah dari UNS, kelompok pecinta alam dari Unsoed, dan tim angkatan laut. Ekspedisi dimulai dari hulu mataair Bengawan Solo hingga ke muaranya di Selat MAdura.

Rasanya lirik lagu Mbah Gesang itu tidak mengada-ada. Bagian hulu Bengawan Solo memang berasal dari pegungungan sewu(pegunungan seribu) di kabupaten Wonogiri, dan airnya memang mengalir sampai jauh yaitu sampai ke Gresik dan bermuara ke Selat Madura. Total panjang Bengawan Solo sendiri adalah lebih dari 540km. Bengawan Solo di bagian hulu dimulai dari 2 buah sungai kecil, yaitu Kali Muning dan Kali Tenggar yang bertemu(tempuran) membentuk sungai besar Bengawan Solo. Kedua sungai kecil ini bermata air di daerah pegunungan sewu perbatasan Kabupaten Wonogiri dengan Kabupaten Pacitan. Kemudian Bengawan Solo ini terus mengalir ke arah waduk Gajahmungkur yang juga berada di kabupaten Wonogiri. Dari Waduk ini, alirannya keluar melewati kabupaten Klaten, kabupaten Sukuharjo, kemudian Kabupaten Karanganyar, kemudian Kota Solo, kabupaten Sragen, kabupaten Ngawi, kabupaten Blora, kabupaten bojonegoro, kabupaten tuban, kabupaten Lamongan, dan berakhir di kabupaten Gresik, dan selanjutnya bermuara di Selat Madura. Pada jaman dahulu pada masa kerajaan Pajang dan Mataram, sungai ini digunakan sebagai sarana lalulintas kapal niaga untuk mengangkut hasil bumi dari pedalaman(Mataram, kasunanan) ke bandar di Gresik. Begitu juga sebaliknya untuk mengangkut garam, terasi, hasil laut, dan barang-barang dari luar jawa ke Mataram/Kasunanan. Sungai ini kabarnya bisa dilayari dengan kapal besar hingga ke Solo pada zaman dahulu. Buktinya adalah ditemukan kapal besar yang tenggelam di dasar Bengawan Solo. Untuk zaman sekarang, jangan bicara bahwa sungai ini bisa dilayari, untuk konsumsi air minum, perikanan, dan bahkan untuk pengairan saja katanya sudah tidak layak. Yang ada adalah kontribusi bencana banjir di musim penghujan. Kerusakan ekologi Bengawan Solo memang sudah sangat parah. Di sisi hulu yang terjadi adalah erosi, karena sudah jarang tanaman kayu yang tumbuh di sepanjang tepi hulu sungai ini. Hutan di kawasan hulu juga semakin jarang. Efeknya adalah erosi yang membuat Bengawan Solo semakin dangkal, airnya coklat pekat dan membuat waduk Gajahmungkur yang merupakan tampungan pertama hulu sungai ini menjadi dangkal juga. Padahal waduk ini digunakan juga untuk pembangkit listrik. Kemudian jika musim kemarau hulu bengawan Solo ini juga sedikit airnya, karena matair di hulunya sudah semakin kecil dan banyak yang mati. Ini adalah masalah di hulu.

Ke luar dari waduk Gajahmungkur, masalah Bengawan Solo semakin kompleks, selain erosi yang masih terjadi di sisi-sisi DAS-nya, ditambah lagi masalah pencemaran limbah. DAS di Kabupaten Sukoharjo terkena pencemaran peternakan babi dan pabrik Tapioka. MAsuk ke Kota Solo lebih parah lagi, limbah rumah tangga, limbah industri besar, dan limbah industri batik juga semakin menambah parahnya kondisi Bengawan Solo. HAsil survey menunjukkan bahwa kota Solo adalah penyumbang pencemar terbesar bagi Bengawan Solo. Penduduk di pinggir Bengawan Solo menggunakannya untuk jamban, bahkan perusahaan sedot jamban juga membuang limbah jamban di Sungai ini. Sebagai bandingannya, 100 tahun yang lalu bangsawan keraton Kasunan Solo setiap tahun selalu mengadakan keramaian di salah satu titik Bengawan Solo menjelang tempuran(pertemuan) dengan Sungai Pepe. Titik itu dinamakan Kedung Bacin. Kabarnya dulu daerah tersebut sangat asri dan banyak ikannya bahkan ada yang sebesar paha manusia. Kedung bacin saat itu cukup jernih dan kedalamannya hingga 20m. JEnis-jenis ikan yang ada di situ saat itu adalah : ikan nila, bader, sepat, kuthuk dll. Kedung Bacin saat ini masih ada, tetapi kondisinya sudah sangat memprihatinkan, airnya keruh kehitaman, dangkal, dan kalau musim kemarau kabarnya airnya seperti kecap. Ikan yang ditemukan hanya ikan sapu-sapu. Ini adalah wajah Bengawan Solo yang sekarang. Masalah Bengawan Solo ini sangat kompleks. Pemerintah dan seluruh masayarakat di sekitar Bengawan Solo harus ikut terlibat. MAsalah ini sepertinya tidak bisa selesai dalam hitungan setahun dua tahun. Mungkin perlu berpuluh-puluh tahun. Yang bisa dilakukan saat ini adalah menyelamatkan hulu bengawan solo dan mata airnya, serta mencegah erosi di bantaran sungai bagian Hulunya. Penghijauan dan penyelamatan hutan di bagian hulu sekarang sedang dilakukan. Sebaiknya pemerintah daerah yang kekurangan dana untuk kegiatan penghijauan bisa bekerjasama atau minimal memfasilitasi dengan elemen kampus, perusahaan-perusahaan swasta, atau relawan-relawan untuk sama-sama menyelamatkan bengawan solo. Namun penghijauan daerah hulu ini baru segelintir usaha, masalah limbah, sampah dll masih harus dicarikan solusinya juga dan butuh keterlibatan banyak pihak.

Saya rasa dari sisi pendidikan, sebaiknya di lembaga pendidikan anak-anak sejak dini perlu diperkenalkan dan diakrabkan dengan alam, supaya mereka peduli dengan kondisi lingkungan alam di sekitarnya. Jika perlu pemerintah membuat kurikulum khusus di sekolah tentang lingkungan hidup.

→ 1 CommentCategories: sejarah jawa

Khotbah Nikah KH. Mustofa Bisri

January 10, 2009 · No Comments

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wa barakatuh

Sabtu malam nggak bisa tidur, iseng-iseng buka youtube dan mengetikkan kata kunci “Gus Mus” dan menemukan video yang berisi khotbah nikah Gus Mus pada saat pernikahan salah satu puterinya. Gus Mus atau KH. Mustofa Bisri adalah seorang ulama kharismatik dan juga budayawan serta pengasuh pondok pesantren Raudhatut-Thalibien di Rembang-Jawa Tengah. Beliau terlahir dari dunia pesantren. Ayahnya yang bernama KH. Bisri Mustofa merupakan ulama besar di Rembang dan pengasuh pesantren Raudhatut-Thalibien sebelumnya. Gus Mus juga merupakan ulama yang sangat produktif menulis seperti halnya ayahnya yang juga membuat karya sebuah kitab tafsir Al-Quran yang dinamakan tafsir Al-Ibriz. Selain keulamaan, beliau juga seorang budayawan, beberapa karyanya adalah lukisan, puisi, dan cerpen. Beliau juga lebih banyak mengurusi pendidikan di pesantrennya serta budaya ketimbang politik praktis.

Menurut saya, khotbah nikah yang menggunakan bahasa Jawa ini cukup mendalam dan bisa menjadi nasihat bagi siapa saja terutama yang berpikir tentang sebuah pernikahan, atau untuk yang sudah berkeluarga. Beliau menyampaikan khotbah nikah tsb tidak secara formal, tetapi diselingi dengan guyonan-guyonan dan bahasa yang merakyat.

Matursuwun Pak Kyai, khotbahnya bisa menjadi nasehat bagi saya. Semoga panjenengan diberi rahmat, kebaikan dan barokah dan tidak lupa kesehatan dari Allah Subhana wa ta’ala. Amin. 

Khotbah nikahnya bisa diakses di link berikut :

http://www.youtube.com/watch?v=p_W4yhliYqE&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=vjQ4LtXqyVM&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=CQy_pXAfdNw&feature=related

→ No CommentsCategories: islam

Sak Madyo

December 30, 2008 · No Comments

Assalamu’alaikum wr. wb.

Sak madyo… itu kalau orang Jawa bilang. Artinya secukupnya, pas, disesuaikan dengan kemampuan, atau tidak berlebihan.  Ada benarnya juga ungkapan ini, dan bukan tanpa dasar. Dalam bersikap kita dianjurkan sak madyo, dalam makan minum juga sebaiknya sak madyo, termasuk dalam beribadah pun dianjurkan untuk sak madyo. Tentu saja ibadah yang wajib ya tetap wajib dipenuhi, jika ditinggalkan ya pasti berdosa dihadapan Allah SWT.  Sebisa mungkin kita kejar ibadah sunnah, dan sebaiknya pun sak madyo. Hal ini tentu saja bukan tanpa dasar, karena dalam sebuah riwayat Nabi besar Muhammad Rasulullah SAW pun pernah mencontohkan demikian kepada salah seorang sahabat beliau yang masih muda. Rasulullah tentu tahu kadar kemampuan umatnya, maka beliau pun mencontohkan sikap sak madyo ini. Ada orang yang mampu lebih banyak, ada orang yang mampunya tidak terlalu banyak, maka disesuaikan dengan kemampuannya saja, yang penting istiqomah.

Saya membaca riwayat Rasulullah ini di situs milik K.H. Mustofa Bisri(Gus Mus, bisa dicek di link berikut :

http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis⊂=2&id=837

Wallahu’alam

→ No CommentsCategories: islam

Hutan di Jepang

December 19, 2008 · 1 Comment

Saya pernah baca di sebuah situs internet bahwa daratan jepang hampir 70% nya masih tertutup oleh hutan. Menurut situs tsb, meskipun kota-kota besar di Jepang ketersediaan ruang hijau sudah semakin sempit, karena dioptimalkan untuk bangunan-bangunan apartemen atau kantor, tetapi di desa-desa dan pedalaman hutannya masih sangat terpelihara. Orang Jepang sepertinya sangat mengoptimalkan luasan kota yang ada dengan bangunan-bangunan. Tidak banyak orang Jepang yang punya rumah dan tanah pribadi. Mereka lebih memilih untuk tinggal di apartemen. Kebijakan Ini adalah bentuk kesadaran dari warga Jepang dan pemerintah Jepang khususnya untuk menghemat lahan yang ada. Tentu saja dengan fasilitas dan kebersihan apartemen yang terjaga.

Bahkan di Jepang, mereka mengenal istilah penjarangan hutan. Kepadatan tanaman kayu di hutan Jepang sangat tinggi kurang lebih 3000 pohon per hektar, jadi perlu dijarangkan/ditebang sebagian pohonnya supaya kepadatannya pas. Alasannya, kepadatan tanaman kayu yang tinggi akan menghalangi sinar matahari untuk masuk hingga ke dasar hutan, sehingga tanaman-tanaman kecil atau perdu tidak bisa tumbuh. Hal ini justru jadi kontra produktif, karena dengan tidak adanya tanaman kecil/perdu, tanah dan humus akan longsor dan “mencemari” air sungai atau air tanah. Jadi tidak heran ya kenapa jika sungai-sungai nya tidak keruh airnya.

Penjarangan hutan ini dilakukan oleh para relawan, jadi sifatnya sukarela. relawan-relawan ini kebanyakan orang-orang yang sudah lanjut usia. Mereka tampaknya mencari aktifitas yang berguna di masa senjanya. beberapa dari mereka juga mengajak dan mengenalkan kepada kaum mudanya untuk belajar memanfaatkan hutan dengan seimbang dan tetap menjaga kelestarian ekosistem hutan. 

Selain relawan, penjarangan hutan ini juga diserahkan kepada penduduk setempat dan mereka dapat memanfaatkan atau menjual kayu hasil penjarangan tsb untuk mereka sendiri. Kompensasinya kepada pemerintah, mereka harus membayar pajak hutan yang hanya seharga satu cangkir kopi per tahun nya. Sangat kecil ya.

Sebuah sikap positif yang bisa kita jadikan panutan. Saya percaya, dibalik kesuksesan jepang melestarikan hutan ada kebijakan yang dirancang oleh orang-orang yang benar-benar ahli di bidang kehutanan dan teknologi pemanfaatan hutan. Di Indonesia saya pernah dengar bahwa banyak ahli-ahli di bidang kehutanan di Universitas Mulawarman atau unuversitas lainnya, tinggal bagaimana keinginan ikhlas pemerintah untuk mau membuat kebijakan lingkungan dengan ide-ide mereka. Tugas kita pribadi adalah sebisa mungkin memberikan pendidikan lingkungan yang baik kepada generasi selanjutnya mulai dini.

→ 1 CommentCategories: Uncategorized